Pulau Solor


Solor adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara, yakni di sebelah timur Pulau Flores. Pulau ini dibatasi oleh Selat Lowotobi di barat, Selat Solor di utara, Selat Lamakera di timur, serta serta Laut Sawu di selatan.
Secara administratif, Pulau Solor termasuk wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau ini merupakan satu di antara dua pulau utama pada kepulauan di wilayah Kabupaten Flores Timur. Pulau Solor sendiri terdiri dari dua kecamatan: Solor Barat dan Solor Timur.
Sejak tahun 1999, masyarakat Solor wilayah selatan beraspirasi untuk memekarkan kecamatan baru dengan nama Kecamatan Solor Selatan dengan pusat pemerintahan di Desa Kalike. Aspirasi ini, setelah mencuat selama kurang lebih 5 tahun, akhirnya mandek di Bale Rakyat Flores Timur. Pada tahun 2006 Flores Timur membentuk lima kecamatan baru, namun tidak termasuk Kecamatan Solor Selatan.

Pulau Solor adalah satu dari dari tiga pulau besar berpenghuni yang berada di wilayah Kabupaten kepulauan Flores Timur. Pada bagian timur pulau ini menyimpan aneka potensi daerah tujuan wisata yang belum tersentuh oleh dunia usaha pariwisata.

Solor merupakan daerah yang unik. Dulunya wilayah Kerajaan. Namun, masyarakat lebih mengenal kerajaan lain di Flores Timur, yaitu Kerajaan Lohayong di Pulau Solor dan Kerajaan Larantuka di Flores daratan. Sejarah lokal Adonara dari berbagai literatur tercatat dari abad ke-16, ketika para pedagang dan misionaris Portugis mendirikan pos di dekat Pulau Solor. Pada saat itu, Pulau Adonara dan pulau-pulau di sekitarnya dibagi di antara penduduk pesisir yang dikenal sebagai Paji dan penduduk pegunungan yang disebut Demon.

Etnik Paji mudah menerima Islam, sedangkan Demon cenderung berada di bawah pengaruh Portugis. Wilayah Adonara milik Paji mencakup tiga kerajaan, yaitu Adonara (berpusat di pantai utara pulau), Terong, dan Lamahala (di pantai Selatan). Di Adonara, banyak kebun kelapa dan kebun jambu mete. Sesekali ada kebun kemiri dan kakao. Suasana yang sulit kami temui di tengah kota. Satu kejutan kami jumpai di puncak bukit. Ada Danau Kota Kaya yang indah dan reruntuhan benteng Portugis.

Benteng Lohayong  berada di titik tertinggi Pulau Solor berdasarkan informasi yang dapat secara turun-temurun, benteng itu digunakan Portugis untuk memantau sekeliling Pulau Solor. Berdasarkan literatur, antropolog Jerman Paul Arndt menyebutkan bahwa benteng itu dibangun tahun 1555-1603. Pembangunannya dilakukan pada masa Raja Portugis, Henricus XVII.

Namun, sekitar tahun 1600, Portugis meninggalkan benteng itu akibat gesekan dengan masyarakat sekitar benteng. Sebagian pindah ke Larantuka, sebagian lagi ke Sikka. Kedua daerah itu ada di Pulau Flores.

Jika diikuti alurnya, Benteng Lohayong berbentuk lingkaran. Sebagian sudah hancur, tetapi sebagian lainnya masih utuh. Di tengah benteng ada tiga rumah adat, yang masing-masing ditinggali perwakilan unsurnya. Belatena mewakili unsur pemerintah, belatana mewakili unsur adat, dan imam progeng mewakili unsur keagamaan.

Pulau Solor indah. Di beberapa tempat, ada dinding batu yang menjorok ke laut. Di tempat lain, hamparan pasir putih di pantai yang belum terjamah turis, sungguh menarik. Dua pulau itu hanya sebagian kecil dari pulau-pulau di Indonesia, yang untuk menjangkaunya harus menggunakan akses transportasi laut


Koleksi keindahan alam dan keunikan budaya di Pulau Solor juga dapat ditemukan pada bagian lain dari pulau ini yang tersebar di seputar wilayah Kecamatan Solor Selatan dan Kecamatan Solor Barat.
Daerah tujuan wisata yang dapat dikunjungi antara lain : pertunjukan budaya di desa Sulengwaseng, pasar tradisional yang masih mengenal sistem barter di Ena Tukan dan keindahan panorama pantai berpasir putih dengan air lautnya yang tenang di sepanjang daerah Riangsunge dan Wakarua.
Sangat cocok untuk kegiatan piknik, berenang, snorkeling dan memancing. Kombinasi perjalanan menggunakan transportasi laut dan darat dari kota Larantuka dapat mencapai tempat-tempat tersebut dengan jarak tempuh +- 3 jam.

Share on Google Plus

About Plat Eb